post by mkim_wp | 0 comment

Program S2 Kimia

2.1.1. Bidang ilmu atau bidang kajian yang menjadi pokok dari PS dan konstelasinya terhadap bidang ilmu lainnya.

Ilmu kimia adalah salah satu dari kelompok ilmu-ilmu Sains dan Matematika disamping Biologi, Fisika, dan Matematika. Ilmu kimia khusus mempelajari zat-zat kimia/materi yang ada di alam baik yang terdapat pada mahluk hidup (hayati) maupun yang terdapat di luar mahluk hidup (non hayati). Pada awal perkembangannya, bahwa ilmu kimia adalah mempelajari zat/materi pada skala makroskopik, sehingga kimia dipelajari pada semua bidang ilmu yang melibatkan zat kimia diantaranya pertanian, peternakan, geologi, pertambangan, kedokteran, kesehatan masyarakat, keperawatan, dll., sehingga definisinya adalah ilmu yang mempelajari materi, struktur, sifat-sifat, perubahannya, dan  energi yang menyertai perubahan tersebut. Revolusi ilmu kimia terjadi, dan diawali ketika John Dalton memperkenalkan teori atom, sehingga kini ilmu kimia adalah mengkaji struktur, sifat-sifat, perubahan/kereaktifan, dan energi yang menyertai perubahan zat-zat kimia tersebut pada tingkat atom dan molekul, dan disebut dengan ilmu kimia modern.

Revolusi yang terjadi pada ilmu kimia, pada abad 21 ini, telah mendorong perkembangan ilmu-ilmu lain sehingga melahirkan ilmu-ilmu yang lebih baru pada ilmu hayati diantaranya adalah biologi molekuler, kedokteran molekular, dan farmasi molekular. Perkembangan itu terjadi adalah untuk menjawab tantangan metode baru pada drug/molecular design, drug/self assemblydrug recognitiondrug delivery, dan drug targetting. Revolusi juga terjadi pada ilmu Ilmu material atau non-hayati seperti material nano,katalis nanofotokatalis, dll. Sebaliknya, perkembangan teknologi pada bidang ilmu lain dengan era teknologi nano telah mendorong diperlukannya sains nano. Sains nano adalah ilmu yang didasarkan pada interaksi atom-atom atau molekul-molekul sehingga membentuk partikel berukuran nano yang sebenarnya masih berada pada daerah ukuran atom dan molekul itu sendiri. Dengan demikian ilmu-ilmu hayati (natural sciences) dan non-hayati sangat memerlukan pemahaman yang lebih dalam tentang sifat-sifat atom dan molekul. Pemahaman ilmu kimia pada tingkat atom dan molekul berkembang terus hingga pada tingkat elektron, dan ini dapat terjadi adalah karena perkembangan kemampuan teori dan teknologi dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik. Program studi S2 ilmu kimia yang akan didirikan di Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro diharapkan memberi sumbangan pada pemahaman yang lebih dalam tentang atom dan molekul sebagai penyusun alam hayati dan non-hayati.

Ilmu kimia pada abad ini adalah ilmu kimia yang mengkaji struktur, sifat-sifat, dan kereaktifan zat-zat kimia dengan pendekatan teori kuantum orbital atom dan orbital molekul. Pada titik ini, ilmu-ilmu fisika dan matematika menjadi kunci utama untuk mengungkap tabir rahasia struktur, sifat-sifat, dan kereaktifan zat-zat kimia itu sendiri. Oleh karena itu struktur atom dan molekul hanya dapat dipahami dan berkembang bila dikaji secara kuantitatif dengan pendekatan fisika dan matematika. Kajian Ilmu kimia pada tingkat S1 (KKNI level 7) yang membahas Kimia Organik, Kimia Anorganik, Kimia Fisik, dan Biokimia, harus meningkat menjadi hubungan antar-kajian sehingga melahirkan kajian baru pada tingkat S2/S3 (KKNI 8 dan 9) yaitu Kimia Organik Fisik, Kimia Anorganik Fisik, dan Biokimia Fisik. Salah satu yang diperlukan pada biologi, kedokteran dan farmasi molekular adalah pemahaman bahwa biokimia tidak cukup hanya mengelaborasi kimia organik dalam kehidupan, tetapi harus melibatkan partisipasi logam-logam, karena tanpa logam-logam itu maka kehidupan itu tidak ada. Oleh karena itu Kimia Anorganik berkontribusi untuk memahami kehidupan itu sendiri, dan hal itu dipelajari pada matakuliah Biorganologam, yang hanya dapat dipahami lebih dalam dengan konsep dan filosopi Kimia Anorganik Fisik dan Biokimia Fisik.

2.1.2. Perkembangan bidang ilmu atau bidang kajian saat ini dan 10 tahun kedepan.

Perkembangan Ilmu Kimia kini dan sepuluh tahun mendatang

Pada awalnya Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari materi, struktur, sifat, perubahan, energi yang menyertai perubahan, serta apa, berapa, dan bagaimana memisahkan zat hasil perubahan tersebut. Akibatnya, kimia diklasifikasikan menjadi Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, Kimia Fisik, dan Kimia Analitik. Ilmu kimia pada saat itu adalah ilmu kimia berbasis objek kajian (Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia), berbasis fondasi sains (Kimia Fisik: struktur, dinamika, dan energi), dan berbasis alat (Kimia Analitik: apa, berapa, dan cara pemisahan).  Paradigma atau cara pandang ilmu kimia dengan ketiga basis di atas tidak dapat menjawab kebutuhan akan zat-zat kimia serta menjelaskan fenomena yang terjadi pada proses-proses kimia hayati maupun non-hayati. Prof. Dr. Dieter Ziessow (TU-Berlin) pernah melaporkan bahwa berdasarkan pendekatan ilmu kimia berbasis objek kajian maka jumlah zat kimia yang dapat diperoleh pada tahun 1883 hanya 0,02 juta dari total 1 juta zat kimia yang terdapat di alam itu sendiri, Gambar 1. Pada tahun 1960 jumlah zat yang ada sudah menjadi 1,2 juta, dan itu dapat diperoleh setelah ilmu kimia memasuki era berbasis fondasi sains dan alat melengkapi ilmu kimia berbasis objek kajian. Antara tahun 1960-1990, jumlah zat kimia yang ada sudah sekitar 6 juta zat melebihi jumlah zat yang ada di alam. Era tahun 1960-1990 adalah era instrumentasi, perkembangan teori dan pemodelan, sehingga jumlah zat yang dapat disintesa melebihi zat yang ada di alam.

Hubungan perkembanan teknologi dan perkembangan-kimia (Ziessow, D.)

Gambar 1. Hubungan perkembangan pengetahuan ilmu kimia dengan jumlah zat hasil sintesa. (Prof. Dr. Dieter Ziessow, TU-Berlin)

Era tahun 1960-1990 adalah era lahirnya cara pandang baru mempelajari ilmu kimia melengkapi dan meningkatkan ketiga cara pandang yang sudah ada. Cara pandang tersebut adalah ilmu kimia berbasis metodologi saintifik yaitu interseksi pendekatan Kimia Eksperimen, Kimia Teori, dan Kimia Komputasi. Hasil yang diperoleh dengan masuknya cara pandang di era tahun 1990-2000 adalah penemuan zat meningkat dari 6 juta menjadi 18 juta. Era ini ditandai dengan era jaringan instrumen, komputer on-line, intranet, server (internet, komputasi, bank data zat kimia), dan komputer personal.

Pemahaman yang lebih dalam tentang atom dan molekul, dengan kemajuan teknologi saat ini, telah memungkinkan dengan  pendekatan Kimia Eksperimen, Kimia Teori, dan Kimia Komputasi, dan hal itulah yang mempercepat penemuan zat-zat baru yang mendorong perkembangan drug/molecular design, drug/self assemblydrug recognitiondrug deliverydrug targetting,  material nanokatalis nanofotokatalis, dll. Perlakuan atom dan molekul dengan pendekatan klasik dan kuantum telah dapat diimplementasikan, dan syarat mutlak ke depan untuk memahami sifat-sifat pada sistem-sistem yang ada dalam kehidupan (hayati) maupun yang non-hayati.

Ilmu Kimia ke depan adalah ilmu dengan basis pada metologi saintifik Kimia EksperimenKimia Teori, dan Kimia Komputasi, untuk lebih menguatkan tiga basis ilmu kimia yang telah mendahului yaitu basis objekbasis fondasi, dan basis alat, yang dapat diterapkan pada:

  1. Perancangan molekul berbasis delivery dan targetting.
  2. Perancangan biokatalis dan non biokatalis.
  3. Pemahaman sistem bio seperti membran sel dan mimikisasi.
  4. Reaksi kimia berbasis radiasi.

Ilmu Kimia kini dan Sepuluh Tahun Mendatang di Jurusan Kimia

Hingga tahun 2013 : Perkembangan dan Pencapaian

Perubahan mendasar di Jurusan Kimia telah terjadi sejak tahun 1993, ketika Prof. Dr. Dieter Ziessow dari TU-Berlin menjadi konsultan akademik di Jurusan kimia. Pada saat itu sebenarnya telah diperkenalkan metologi saintifik Kimia EksperimenKimia Teori, dan Kimia Komputasi, Gambar 1, dan hal itu berlangsung terus hingga tahun 2011. Hasilnya telah mengubah paradigma pembelajaran (Lerning Processes and Methodology) dan penelitian yang dilakukan di jurusan kimia.

Paradigma yang telah berubah tadi mendapat dukungan dan menjadi sejalan dengan program UNDIP yang menetapkan tahun 2010-2015 sebagai  fase III yaitu fase pengembangan dengan indikator kinerja peningkatan jumlah penelitian yang didanai oleh dana hibah nasional.  Selama tahun 2009-2011, Staff di jurusan Kimia memperoleh hibah penelitian sebanyak 70 judul yang terdiri dari 25 judul hibah DIPA FSM, 10 judul hibah Bersaing, 20 judul hibah Stranas, 5 judul hibah Kompetitif Stranas Nasional, 2 judul hibah Kompetensi, 2 judul hibah Fundamental, 3 judul hibah Ristek, dan 3 judul dana Fasilitasi Diknas. Hingga tahun 2013 jumlah hibah penelitian menjadi 100 judul. Judul-judul penelitiannya  dapat dilihat pada Tabel 1.  Dr. Bambang cahyono  juga telah memperoleh paten dengan no file … bidang ….. yang berjudul ….

Pada tanggal 20 November 2010, jurusan Kimia menjadi penyelenggara Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan yang diselenggarakan bersama secara bergantian antara UNDIP, UNNES, UNS, UNSOED yang mengambil tema “…..” yang dihadiri oleh ketua HKI Jawa Tengah. Peserta yang menghadiri sebanyak … orang berasal dari berbagai perguruan Tinggi di Indonesia, Badan-badan penelitian seperti …. dan …. dan guru-guru Kimia SMA.  Selain seminar rutin di atas, jurusan kimia juga menjadi penyelenggara Simposium Nasional XVII Bahan Alam Indonesia pada 27-28 Oktber 2009.  Salah satu buku hasil karya staf pengajar jurusan kimia yang telah mengembangkan paradigma metologi saintifik Kimia Eksperimen, Kimia Teori, dan Kimia Komputasi, adalah buku berjudul “Struktur Molekular-Mikro material: Pengantar Kimia Supramolekul dan Kimia nano dengan ISBN: 978-979-704-858-7.

Saat ini jurusan Kimia mempunyai 8 pengajar yang bergelar doktor dari dalam maupun luar negeri, sedang studi S3 13 orang, S2 sebanyak 17 orang , dengan berbagai kepakaran ditinjau dari Disertasi dan Tesisnya nya seperti ditunjukkan Tabel 2.

Perkembangan sampai  sepuluh tahun ke depan

Tujuan Strategis : Penelitian

Pendahuluan

Proses-proses kimia dan fisika pada sistem hayati dan non hayati  adalah sangat komplek. Pengamatan fenomena saja tidak cukup untuk memahami kedua sistem tersebut. Perlu pemahaman pada tingkat yang lebih kecil yaitu pada tingkat molekul, meskipun akan lebih kompleks dari pengamatan fenomenologi, namun akan dapat memberi gambaran yang lebih jelas akan proses-proses kimia yang terjadi pada sistem hayati dan non-hayati itu sendiri. Pemahaman yang lebih jelas dan lebih dalam akan dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pada sistem hayati dan non-hayati. Kegiatan penelitian yang diperlukan untuk memberi kemampuan/capasity building untuk memahami proses hayati dan non-hayati tersebut diantaranya adalah: (a) Perancangan molekul berbasis delivery dan targetting, (b) Perancangan biokatalis dan non-biokatalis, (c) Pemahaman sistem bio seperti membran sel dan mimikisasi, dan (d) Reaksi kimia berbasis radiasi.

Kompetensi perancangan, analisis, simulasi, dan mimikisasi dalam rangka menghasilkan kontrol atau mengendalikan proses-proses kimia sistem hayati dan non hayati akan dapat dihasilkan dengan meningkatkan dan reorientasi kegiatan penelitian yang lebih intensif lagi di tiga grup penelitian yang sudah ada yaitu  grup energi, material dan proses, dan bahan alam. Kegiatan penelitian ini tentu adalah sekaligus mendukung visi UNDIP menjadi Universitas Riset yang Unggul pada tahun 2020, yang telah dibagi menjadi empat fase, yaitu tahun 2000 – 2005 adalah fase efisiensi  internal,  tahun 2005 – 2010 fase persiapan sebagai universitas riset, tahun 2010 – 2015 fase embrio universitas riset, dan fase keempat tahun 2015 –2020 adalah fase awal mencapai universitas riset,  fase dimana UNDIP dapat dibandingkan dengan universitas riset dunia. Tahun 2020 – 2025 adalah fase penguatan universitas riset.

Ruang Lingkup Penelitian

Paradigma penelitian adalah berlandaskan interseksi dari keempat basis yaitu basis objek (Organik, Anorganik, Biokimia), basis fondasi (Kimia Fisik), basis alat (kimia Analitik), dan basis metologi saintifik (Kimia EksperimenKimia Teori, dan Kimia Komputasi). Penelitian selalu memilih objek salah satu dari material organik, anorganik atau bio-or(anorganik). Apapun material yang menjadi objek penelitian selalu dikaji dengan salah satu, dua, atau ketiga metode teori, eksperimen dan komputasi. Penelitian merupakan kombinasi dari objek dan metode, sehingga di jurusan kimia terdapat tiga bahan kajian dan disebut grup riset yaitu (a) grup energi, (b) material dan proses, dan (c)bahan alam, Gambar 1. Ketiga grup penelitian ini adalah menjadi dasar pengembangan penelitian hayati dan non-hayati. Pembagian menjadi tiga bahan kajian adalah berdasarkan identifikasi track record kekuatan SDM (Sumber Daya Manusia).

Pengelompokan

  1. Grup  Material dan Proses
  2. Grup Energi
  3. Grup Bahan Alam

Sasaran

Sumber daya alam hayati dan non-hayati di wilayah negara Indonesia sangat melimpah, tetapi masih mempunyai nilai jual yang rendah. Peningkatan nilai tambah dapat dilakukan melalui penelitian, sehingga indikator keberhasilan penelitian bukan hanya pada jumlah dana penelitian yang terserap, tetapi seberapa banyak kajian kimia yang telah dilakukan terhadap bahan alam hayati  dan non-hayati tersebut. Paradigma berpikir demikian akan berusaha mencari dukungan-dukungan dana yang diperlukan. Grup material dan proses dan grup energi fokus pada mekanisme, kinetika, dan termodinamika material non-hayati, sedangkan grup bahan fokus pada mekanisme, kinetika dan termodinamika material hayati. Pola penelitian dengan tiga grup di atas, diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas yang menguasai sains dan teknologi material hayati dan non-hayati, sehingga Bangsa Indonesia mampu menghadapi tantangan persaingan global puluhan tahun mendatang.

Paradigma-baru-penelitian

Gambar 2. Diagram Paradigma Baru Penelitian

Tujuan Strategis : Pendidikan

Pendahuluan

Misi UNDIP adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan sehingga menghasilkan lulusan yang mempunyai keunggulan kompetitif, komparatif pada tingkat internasional dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Misi tersebut hanya dapat dicapai bila program yang ada tidak hanya Program Sarjana S1 tetapi harus mempunyai program pendidikan yang lebih tinggi Pasca Sarjana. Untuk memenuhi tercapainya misi tersebut, dosen kimia telah bersepakat untuk menyelenggarakan program S2 Ilmu Kimia sebagai pengembangan program S1 Kimia yang sudah berjalan sejak tahun 1988.  Pembukaan S2 ini juga sejalan dengan renstra FSM UNDIP berkaitan dengan pengembangan program pasca sarjana, direncanakan bertambah 1 program pasca Sarjana/Sp  dari 48 di tahun 2012 menjadi  49 di tahun 2013.

Sasaran

Sasaran yang dicapai sampai 2025 dalam bidang pendidikan diberikan pada, Tabel 3, meningkatkan jumlah guru besar, meningkatkan jumlah doktor hingga mencapai 80% pada tahun 2025, membuka program doctor pada tahun 2020, dan meningkatkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung visi UNDIP

Tabel 3. Sasaran di bidang pendidikan sampai 2025

2014 2020 2025
Jumlah Profesor = 0 Jumlah professor = 4 Jumlah  professor = 10
Jumlah doktor = 9  orang Jumlah doktor =  22 80% doktor
Penerimaan mahasiswa S2 Kimia Pendirian program S3 Kimia Meluluskan doktor Kimia pertama

2.1.3. Kemanfaatan terhadap perkembangan bangsa khususnya mengait dalam mengelola sumber daya bangsa dan peningkatan nation competitiveness

Salah satu indikator kemajuan suatu bangsa diukur dari penguasaan ilmu bidang sains dan teknologi. Penguasaan ilmu sains dan teknologi itu sendiri kebanyakan terlahir dari serangkaian penelitian ilmu-ilmu dasar, dan salah satunya adalah ilmu kimia. Penelitian ilmu-ilmu dasar kimia memerlukan waktu yang panjang agar dapat diterapkan di masyarakat. Hal ini harus disadari sejak awal agar perencanaan program penelitian dan pendidikan bidang ilmu kimia dilakukan dengan tahapan-tahapan yang tepat dan terencana. Suatu material hayati atau non-hayati tidak langsung dapat dimanfaatkan sebagai biokatalis atau non-biokatalis tanpa melalui kajian ilmiah yang mendalam. Material non-hayati logam emas tidak dapat digunakan sebagai nano-bio-katalis tanpa terlebih dahulu memahami sifai-sifat partikel emas berukuran nano. Setiap tahun, penghargaan terhadap pelaku-pelaku penelitian ilmu-ilmu dasar yang telah melahirkan pemikiran baru bagi kemajuan teknologi dan sangat bermanfaat bagi masyarakat dunia dianugerahkan oleh yayasan Nobel, The Royal Swedish Academy of Sciences di Swedia.

Menyadari pentingnya ilmu dasar, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka menghasilkan hasil-hasil penelitian yang dapat meningkatkan kualitas bangsa. Salah satu yang mendapat perhatian adalah penyediaan bahan baku obat, peningkatan produksi pangan, dan peningkatan nilai tambah hasil-hasil pertambangan. Ketiga aspek di atas memerlukan penguasaan ilmu-ilmu hulu seperti ilmu kimia. Pemerintah mengeluarkan acuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 Bidang Iptek dan Kontrak Kinerja Menteri Riset dan Teknologi KIB II, dan kemudian dirumuskan menjadi  Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. Hasil perumusannya selanjutnya menghasilkan Agenda Riset Nasional 2010-2014 sebagai penjabaran Jakstranas Iptek 2010-2014. Adapun Jakstranas Iptek 2010-2014 adalah bahwa pembangunan bangsa Indonesia yang kini tengah berlangsung dipandu oleh Visi Indonesia tahun 2025, “Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur“. Kebijakan dan program pemerintah yang sedemikian lengkap, tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda menghantarkan bangsa Indonesia secara perlahan menuju visi di atas, karena permasalahan mendasar dalam pembangunan bangsa masih belum bisa terselesaikan diantaranya meluasnya kemiskinan, kesenjangan sosio-ekonomi yang makin lebar, ketergantungan pada hasil-hasil iptek negara maju, dan terutama lemahnya basis iptek pada industri. Kalangan industri menyadari kelemahan pada persaingan penguasaan iptek, tetapi mereka tidak mampu berbuat karena kualitas SDM yang dihasilkan oleh Perguruan Tinggi belum memenuhi harapan. Pemerintah dan industri harus sama-sama bergerak untuk mengejar ketertinggalan penguasaan iptek ini, dengan mendukung perguruan tinggi memenuhi harapan mereka sebagai penghasil SDM berkalitas.

Cita-cita pemerintah dan sifat-sifat ilmu dasar harus saling mengisi dan memahami. Pemerintah menyadari bahwa salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan iptek nasional adalah Sains Dasar Kimia. Sains dasar adalah landasan teoritik bagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan budaya ilmiah di sebuah bangsa. Teknologi pangan, teknologi obat, teknologi material, material fungsional, katalis-nano, biokatalis, semuanya dapat berkembang karena penguasaan sains dasar dan salah satunya sains dasar kimia.

Selaras dengan RPJMN 2010–2014 yang disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), arahan pembangunan iptek Peningkatan Penelitian Pengembangan dan Penerapan Iptek (P3-Iptek) dengan sepuluh (10) fokus pembangunan antara lain  meliputi  Ilmu pengetahuan Alam (IPA); Energi, Energi Baru dan Terbarukan;  Material Industri dan Material Maju; Industri, Rancang Bangun dan Rekayasa;  Ilmu kebumian dan Perubahan Iklim; Ketenaganukliran dan Pengawasannya dengan sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya kemampuan nasional dalam pengembangan, penguasaan dan penerapan iptek dalam bentuk publikasi, paten(HKI), prototip (purwarupa), layanan teknologi, wirausahawan teknologi.

Dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang tangguh pada tahun 2025, menghadapi tantangan dan kendala yang ada, serta merevitalisasi industri nasional, maka telah diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional yang dijabarkan bentuk Peraturan Menteri Perindustrian dalam bentuk 35Road Map (peta panduan) pengembangan klaster industri prioritas untuk periode 5 (lima) tahun ke depan (2010-2014) yaitu Kelompok Klaster Industri Basis Industri Manufaktur, Kelompok Klaster Industri Berbasis Agro (12 Klaster Industri), Kelompok Klaster Industri Alat Angkut (4 Klaster Industri), dan Kelompok  Klaster Industri Elektronika dan Telematika (3 Klaster Industri).

Persaingan pasar bebas dunia dan asean, kebijakan pemerintah, harapan para pelaku industri adalah kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dihindarkan, tetapi harus dihadapi dengan menyediakan  ahli-ahli kimia yang mempunyai penguasaan ilmu dasar yang kuat sekaligus mampu berinovasi dan professional. SDM yang telah mempunyai latar belakang ilmu dasar kimia yang kuat akan mampu beradaptasi, menyerap ilmu pengetahuan mutakhir dan teknologi maju, mampu menerapkan, mampu mengembangkan, sehingga dapat menangani masalah-masalah keterbatasan kemanfaatan sumber daya alam hayati dan non-hayati  guna kepentingan pembangunan dan pengembangan bangsa. Penguasaan teknologi yang berujung pada peningkatan kemampuan kompetisi global dan kemakmuran bagi suatu negara tidak  terlepas dari pada kegiatan riset dasar seperti ilmu kimia. Menyadari hal ini, kelompok dosen Kimia FMIPA UNDIP tertantang akan tanggungjawab profesinya dan akhirnya memutuskan  bahwa perlu menyelenggarakan pendidikan program magister bidang Ilmu Kimia.

2.2. RANCANGAN KURIKULUM.

2.2.1. Profesi, Bidang pekerjaan, atau bidang keilmuan dan keahlian yang dapat diisi oleh lulusan.

Pengembangan kemampuan lulusan sarjana kimia harus memperhatikan tahapan-tahapan pendidikan kimia yang dilaluinya. Tahapan-tahapan tersebut harus benar dan tepat untuk memenuhi kebutuhan setiap institusi yang membutuhkan, masyarakat, bangsa dan negara. Tahapan-tahapan juga harus memenuhi kebutuhan pengembangan ilmu.

Salah satu yang dapat digunakan sebagai perbandingan adalah pengembangan lulusan Sarjana Kimia di Amerika Serikat berdasarkan standar yang ditetapkan oleh ACS (American Chemiaal Society), yang disebut dengan Mapping Your Career Pathway. Kebutuhan lulusan Sarjana Kimia dapat dikelompokkan pada 4 tingkat pekerjaan berdasarkan tingkat kespesifikannya, yaitu (a) Sangat spesifik, (b) Spesifik, (c) Relatif, dan (d) Tidak tentu. Kespesifikan pekerjaan lulusan sangat berkaitan dengan tiga hal yaitu (a) Kekuatan (personal strengths) yang dimiliki lulusan, (b) Kesempatan (opportunities) yang ada di pasar kerja (job market), dan Sistem nilai (values) yang dianut oleh lulusan. Salah satu syarat penting yang dimiliki oleh lulusan agar berhasil dalam kariernya adalah kemampuan memahami kemampuannya sendiri. Setelah itu, dia akan mampu untuk mengidentifikasi langkah selanjutnya dalam pengembangan karriernya.

Berdasarkan kespesifikan, kekuatan, kesempatan dan dan sistem nilai yang dimiliki oleh lulusan Sarjana Kimia, terdapat 4 jalur pengembangan karier yaitu (a) Bekerja di Industri, (b) Bekerja di Akademik, (c) Bekerja di Pemerintahan, dan (d) Bekerja pada dirinya sendiri (wiraswasta).

Lulusan Sarjana Kimia yang bekerja di industri harus memperhatikan ciri-ciri berikut:

a.      Kompetensi teknis (sangat penting) dan kedalaman (depth), kemampuan mendefinisikan dan menyelesaikan masalah, biasanya telah melalui postdoctoral.

b.     Kepemimpinan, mampu memotivasi yang lain, dan kemampuan kerja tim.

c.      Bekerja keras (hard) dan pintar (smart).

d.     Kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulisan, dan mampu mempengaruhi orang lain.

e.     Kemampuan bekerja baik dalam tim; interaksi dengan orang lain berlatar belakang berbeda, berperilaku etis dan berintegritas.

Lulusan Sarjana Kimia yang bekerja di akademik, selain memperhatikan ciri-ciri di atas juga harus memperhatikan bidang kerja yang dapat dilakukan yaitu:

a.      Pengajaran (teaching): di kelas, di laboratorium, kantor, konsultasi, pengembangan metoda baru.

b.     Penelitian (research): mengarahkan mahasiswa S1 dan pasca sarjana, publikasi, mengerjakan grants.

c.      Pelayanan (service): jurusan, sekolah, masyarakat, profesi.

Bekerja di Pemerintahan meliputi (a) Lingkungan: makanan, udara, air; (b) Pengatur kebijakan dan praktis; (c) Militer/pertahanan; (d) Analisis forensik; (e) Kontrol kualitas dan keamanan (safety); (f) Hak-hak intelektual/Paten; dan (g) Medis dan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan standar ACS, setiap lulusan Sarjana Kimia khususnya untuk bidang akademik perlu juga mempunyai kemampuan mengkomunikasikan pengetahuannya atau How to Communicate Science to the Public. Cara mengkomunikasikan ilmu kimia sebagai salah satu bidang sains adalah (a) Publikasi hasil penelitian dalam jurnal ber-peer reviewed, (b) Presentasi hasil-hasil pada pertemuan ilmiah, (b) Mendiskusikan hasil-hasil penelitian dengan masyarakat, (c) Berbicara dengan teman-teman tentang hal-hal baik yang telah dilakukan oleh sains kepada masyarakat. Pada kompetisi Internasional dengan memperhatikan standar yang ditetapkan oleh ACS di atas, maka dipandang perlu untuk meningkatkan kualitas lulusan Sarjana Kimia yang ada di Indonesia. Sesuai dengan uraian di atas maka bidang profesi yang dapat diisi oleh lulusan program magister S2 Kimia adalah:

  1. Peneliti dan Pengembang bidang Kimia.
  2. Edukator / Pendidik.
  3. Leader Profesional di bidang industri: perencana, pelaksana dan Pengembang Industri seperti di  Perusahaan obat dan makanan, Polimer, Semen, Pertamina.
  4. Entrepreneur Profesional dan Konsultan di bidang pendidikan dan teknologi misal konsultan di perbankan, lembaga pendidikan non formal,  dan industri.
  5. Komunikator Profesional sebagai Jurnalis Ipteks.
  6. Instansi pemerintah : LIPI, BATAN, Deptan, Dephun.

2.2.2. Profil atau karakteristik (spesifikasi teknis) lulusan Program Studi yang dibutuhkan oleh masyarakat maupun untuk kebutuhan pengembangan keilmuan.

Sesuai dengan profesi, bidang pekerjaan, atau bidang keilmuan dan keahlian yang dapat diisi oleh lulusan, profil kimiawan  professional yang dihasilkan :

  1. Mampu bekerja sesuai dengan prinsip, mengembangkan diri berdasar prestasi, mengaplikasikan Ilmu Kimia di bidang pekerjaan yang dipilihnya.
  2. Mampu bekerjasama, adaptif, bersikap proaktif, dan menjadi motivator.
  3. Mampu belajar dan berpikir kritis dan mau belajar sepanjang hayat.
  4. Menjunjung tinggi kode etik akademik dan profesional.
  5. Mampu memimpin dan memberi keteladanan.
  6. Mempunyai  etos kerja tinggi, ketrampilan berwirausaha, dan sifat mandiri.
  7. Inovatif dan kreatif.
  8. Mampu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dalam bahasa nasional dan internasional dengan berbagai stakeholder.
  9. Mampu memberikan dan mengembangkan Ilmu Kimia  kepada masyarakat.

2.2.3. Kualifikasi Hasil pendidikan (Learning Outcomes).

Hasil Pendidikan yang diharapkan bagi lulusan program magister Ilmu Kimia:

  1. Mampu menunjukkan penguasaan, pemahaman dan keterampilan bidang ilmu kimia dan  lain yang mendukung yang diperlukan selama berkarir di bidang kimia.
  2. Mampu mengkomunikasikan pengetahuannya secara lisan dan tertulis terkait dengan bidang pekerjaannya di bidang kimia dan bidang lain yang terkait.
  3. Mampu menunjukkan penguasaan ilmunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3.

2.2.4. Kompetensi utama dan kompetensi pendukung

Kompetensi seseorang lulusan yang dihasilkan program magister kimia FSM UNDIP mengacu pada standar yang ditetapkan oleh UNESCO, yaitu kompetensi: (1) Penguasaan pengetahuan (How to know), (2) Keterampilan melaksanakan pekerjan (How to do), (3) Kemampuan mengoptimalkan keahliannya sebagai seorang profesional di bidang ilmu atau profesinya (How to be), dan (4) Kemampuan bekerja sama, menghargai peran orang lain sehingga dapat memanfaatkan bidang ilmunya untuk kepentingan bersama (How to live together). Acuan dasar ini digunakan untuk menyusun SK Mendiknas No. 045/U/2002 yang menjadi landasan penyusunan kompetensi lulusan program magister FSM UNDIP.

Berdasarkan uraian di atas, maka kompetensi utama  lulusan program magister Ilmu Kimia adalah sebagai berikut :

Kompetensi Utama

  1. Menguasai konsep-konsep dasar dan pendalaman pengetahuan kimia secara utuh dan mendasar.
  2. Merancang dan menjalankan kegiatan produktif–inovatif melalui penerapan kreatif ilmu Kimia.
  3. Mentransfer kemajuan IPTEKS Kimia melalui media tulis atau audio–visual menjadi tuntutan kebutuhan  masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
  4. Merancang dan melaksanakan penelitian operasional terapan.
  5. Memanfaatkan teknologi informasi untuk memajukan kegiatan-kegiatan produktif–inovatif.
  6. Berkomunikasi dalam bahasa nasional dan internasional dengan lancar, secara lisan maupun tertulis.
  7. Menelusuri dan mengeksplorasi informasi IPTEKS dalam rangka belajar sepanjang hayat untuk meningkatkan kualitas penguasaan IPTEKS kimia

2.2.5. Bahan kajian

Untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan, bahan kajian yang dijadikan dasar penyusunan matakuliah meliputi:

  1. Kimia Atom dan Molekul
  2. Kimia Teori
  3. Biokimia
  4. Kimia Organik
  5. Kimia Analitik
  6. Kimia Material
  7. Aplikasi  Radiasi untuk Analisis
  8. Disain Riset
  9. Penulisan Ilmiah
  10. Komputasi  Kimia

2.2.6.  Matakuliah yang mengait pada bahan kajian

Matakuliah dirancang berdasarkan bahan kajian yang ditetapkan dan dibagi menjadi dua bidang peminatan yaitu bidang minat Kimia Bioorganik dan bidang minat Kimia Material Anorganik:

Bahan Kajian a b c d e f g h i j
Nama Matakuliah
  1. 1. Peminatan Ilmu Kimia Bioorganik
Desain Riset dan Penulisan Ilmiah
Instrumentasi Analitik
Filsafat Ilmu
Seminar
Penelitian
Kimia Organik Fisik lanjut
Kimia biofisik
Penentuan Struktur Molekul
Sintesis Kimia Organik
Biosintesis Bahan Alam
Bioassay
Biofisik Pangan
Biomembran
Farmakologi Molekuler
Metode Analisis Biomolekul
Pemodelan Molekul
Sistem Penghantaran Bioaktif
Kimia Medicinal
Biokimia  Medik
Metode Pemisahan Senyawa Organik
  1. 2. Ilmu Kimia Material Anorganik
Desain Riset dan Penulisan Ilmiah
Instrumentasi Analitik
Filsafat Ilmu
Seminar
Kimia Anorganik Fisik Lanjut
Mekanisme Reaksi Anorganik
Metode Pemisahan dan elusidasi struktur anorganik
Kimia Material
Katalis
Fotokimia-Fotokatalis
Kimia Sumberdaya Mineral
Kimia Supramolekul Lanjut
Kimia Zat Padat Lanjut
Simetri Molekul Anorganik
Membran Anorganik
Kimia Bioanorganik Lanjut
Kimia Permukaan

Struktur Kurikulum S2 Kimia FSM UNDIP

Gambar 3. Hubungan Bahan Kajian dan Matakuliah pada Kurikulum Magister Ilmu Kimia FSM UNDIP (Sesuai Permen Dikbud No. 49 Tahun 2014 dan SE Dirjen Dikti No. 526/E.E3/MI/2014)

2.3. SISTEM PEMBELAJARAN.

2.3.1. Metode pembelajaran yang dipergunakan.

Pembelajaran ilmu Kimia yang akan dilakukan adalah dengan mengkombinasikan keempat paradigma yaitu basis objek, basis alat, basis fondasi, dan basis metodologi. yang dapat diterapkan padaobMetode pembelajaran yang dipergunakan pada Program Magister S2 lebih ditekankan pada metode SCL (student centered learning). Penekanan metode pembelajaran diletakkan pada metodologi sains (logico-empiricism. Mahasiswa akan diajak ikut serta dalam proses belajar mengajar untuk memecahkan berbagai masalah / riset :
a. Problem based learning : melalui proses belajar ini sekelompok mahasiswa diajak untuk merumuskan berbagai persoalan yang ada di alam sekelilingnya atau persoalan di industri, lalu bekerja sama untuk memecahkannya dengan metoda ilmiah.
b. Project based learning : melalui proses belajar ini sekelompok mahasiswa harus merumuskan suatu project untuk memahami gejala alam atau yang berorientasi misi dan menyelesaikannya dengan bekerja sama dengan memakai metoda ilmiah.
c. Research based learning : melalui proses belajar ini sekelompok mahasiswa merumuskan suatu masalah resarch dan melalui proses logico-empiricism berkontribusi dalam memahami dan memperoleh pengetahuan baru .

Bentuk kegiatannya meliputi kuliah tatap muka dalam kelas dan e-learning, praktikum, proyek, presentasi, diskusi dalam kelompok, kunjungan industri, dan penelitian individu.
Tatap muka didalam kelas tetap dilakukan akan tetapi dosen lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada awal kuliah, dosen menjelaskan dan membahas kontrak kuliah bersama mahasiswa untuk mendapat kesepakatan. Kontrak kuliah memuat gambaran yang jelas tentang deskripsi matakuliah tujuan perkuliahan, strategi, evaluasi, dan criteria yang akan digunakan.

2.3.2. Sistem pembobotan dan beban belajar (system sks dan SKS atau lainnya).

Penetapan bobot setiap matakuliah ditentukan berdasarkan (a)tingkat kemampuan/ kompetensi yang ingin dicapai; (b) tingkat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang dipelajari ; (c) cara/strategi pembelajaran yang akan diterapkan; (d) dan posisi (letak semester) suatu kegiatan pembelajaran dilakukan; dan (e) perbandingan terhadap keseluruhan beban studi di satu semester .

2.3.3. Jenis dan ragam media pembelajaran

Media cetak tetap merupakan jenis media yang paling banyak digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Media cetak yang digunakan meliputi: hand out, diktat, buku teks, dan bahan lain dalam bentuk cetakan (printed). Penggunaan media cetak tidak hanya digunakan untuk keperluan belajar mahasiswa saja tetapi juga untuk penyelenggaraan pembelajaran yang dilakukan oleh dosen.

Laboratorium digunakan untuk memberikan pengalaman belajar langsung melalui kegiatan belajar observasi dan percobaan. Peralatan laboratorium yang digunakan berupa benda sesungguhnya (realia) dan benda tiruan (model). Selain itu juga disediakan alat-alat yang digunakan untuk keperluan percobaan di lapangan. Laboratorium riset disediakan untuk melakukan penelitian terbimbing bagi mahasiswa.

Perpustakaan disediakan untuk kegiatan belajar individual. Terdapat beberapa perpustakaan yang dapat diakses oleh dosen dan mahasiswa yaitu perpustakaan universitas, perpustakaan fakultas, dan ruang baca jurusan.

Media audio visual digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dalam kelas seperti LCD, OHP, white board, dan blackboard. Media-media ini sudah tersedia di setiap ruang kuliah. Komputer juga digunakan untuk beragam keperluan pembelajaran. Penggunaan komputer ini semakin diakrabi oleh mahasiswa dan pengintegrasian aplikasi komputer ke dalam tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh mahasiswa. Pemanfaatan komputer sebagai media dan teknologi pembelajaran tidak hanya terbatas pada perangkat lunak saja tetapi juga perangkat keras. Aplikasi program komputer juga banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang efektif untuk menguasai kompetensi tertentu.

Media pembelajaran lainnya yang disediakan adalah Internet, internet yang disediakan UNDIP dapat diakses 24 jam. Dengan internet mahasiswa tidak hanya sekedar dapat mencari informasi yang sangat luas, akan tetapi juga menggunakannya sebagai media komunikasi sesama mahasiswa, komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, dan komunikasi antar dosen tanpa batas ruang dan waktu. Internet dan web juga digunakan bagi dosen untuk menggali informasi dan ilmu pengetahuan dalam mata kuliah yang menjadi bidang yang diampu. Melalui penggunaan internet dan web, dosen selalu siap mengajarkan ilmu pengetahuan yang mutakhir kepada mahasiswa. Ada beberapa E-jurnal yang dapat diakses melalui internet yaitu : Science-direct, SpringerLink, ProQuest, Ebsco, J-Stage, DOAJ, Gale. Dosen juga dapat mengembangkan sistem pembelajaran berbasis web karena setiap dosen sudah disediakan web blog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>